KATA PENGANTAR
Puji
syukur penulis panjatkan ke Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat-Nya, serta doa dan motivasi dari berbagai pihak sehingga pada akhirnya
makalah yang disusun terselesaikan.Dengan membuat makalah tentang PENGARAHAN DAN PENGEMBANGAN ORGANISASI
(Komunikasi) dapat
terselesaikan dengan sebaik-baiknya. Saya mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah
membantu penyelesaian penulisan ini,
Terutama kepada teman – teman satu kelompok saya sehingga makalahtentang“\PENGARAHAN
DAN PENGEMBANGAN ORGANISASI (Komunikasi)
” ini terselesaikan.
Serta Semua pihak yang telah membantu ataupun memberikan dorongan baik moril
maupun materil yang dibutuhkan dalam menyelesaikan penulisan ini. Dalam
penulisan ini kami menyadari bahwa penulisan ini masih jauh dari kesempurnaan
dan banyak kekurangan, baik dalam isi maupun cara penyajiannya, karena
keterbatasan ilmu dan pengetahuaan kami. Oleh karena itu, saya mengharapkan
saran dan kritik yang membangun bagi penyempurnaan penulisan ini.
DARTAR ISI
KATA PENGANTAR....................................................................i
DARTAR
ISI.......................................................................... ii
BAB
I................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang............................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah......................................................................... 2
BAB II.................................................................................. 3
2.1 Pengertian komunikasi.................................................................. 3
2.2 Proses komunikasi......................................................................... 4
2.3 Saluran komunikasi dalam organisasi............................................ 6
2.4 Peranan komunikasi informal........................................................ 7
BAB
III................................................................................. 9
3.1 Hambatan-hambatan komunikasi efektif....................................... 9
3.2 Peningkatan efektivitas komunikasi.............................................. 11
DAFTAR PUSTAKA................................................................ 13
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar belakang :
Komunikasi merupakan proses
penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Manusia tidak
bisa lepas dari komunikasi antar sesama sehari-harinya. Sebab, ini sangat
penting bagi mereka. Komunikasi yang baik akan menumbuhkan hubungan yang baik
antar seseorang, berbagi informasi, mempunyai banyak teman dll. Sebaliknya,
jika seseorang jarang berkomunikasi, maka akan menimbulkan kesukaran dalam
berkomunikasi, sulit mendapatkan informasi, mempunyai sedikit teman dll. Jadi,
kita harus aktif berkomunikasi terhadap orang yang dikenal maupun orang yang
tidak dikenal. Akan tetapi, sebelum kita berbicara dengan lawan bicara
(komunikan) kita harus mengetahui terlebih dahulu apa yang akan kita bicarakan
kepada komunikan. Artinya, kita harus memikirkan terlebih dahulu apa yang akan
kita bicarakan, dan sekiranya komunikan dapat menanggapi apa yang kita
bicarakan. Ketika proses komunikasi sedang berlangsung, sebaiknya kita
berbicara dengan sopan dan berbahasa yang baik dengan komunikan.
Dalam sebuah organisasi, komunikasi menjadi
salah satu faktor berjalannya komunikasi. Sebab, para anggota dapat
menyampaikan pendapat atau gagasannya, saling berbagi informasi, kedekatan
antar anggota dll. Sebaliknya jika proses komunikasi jarang antar anggota atau antara
pimpinan dan bawahan. Akibatnya, sebuah organisasi tidak akan berjalan lancar
karena mereka tidak dapat bekerja sama antara sesama.
Disisi lain, mungkin sebagian orang tidak
menyadari bahwa kesuksesan berawal dari komunikasi yang baik. Faktanya beberapa
perusahaan besar di Indonesia dapat berkembang dengan pesat karena para
pimpinan perusahaan bekerja sama dengan perusahaah lainnya, dengan para
pemerintah setempat ataupun dengan beberapa lembaga. Adanya kerjasama antara
mereka timbul karena komunikasi yang baik.
Dari penjelasan diatas, kita dapat merenungkan
betapa pentingnya sebuah komunikasi bagi kita semua. Mungkin sebagian dari kita
meremehkan apa arti / manfaat dari komunikasi. Oleh sebab itu, kami akan
menjelaskan tentang komunikasi secara detail dalam makalah ini.
1.2 Rumusan
masalah :
1.
Menjelaskan pengertian komunikasi dalam organisasi
2.
Menjelaskan Proses komunikasi
3.
Menjelaskan Saluran komunikasi
4.
Menjelaskan Saluran organisasi dalam organisasi
5.
Menjelaskan Peranan komunikasi informal
6.
Menjelaskan Hambatan-hambatan komunikasi efektif
7.
Menjelaskan Peningkatan efektivitas komunikasi
BAB II
PEMBAHASAN TENTANG KOMUNIKASI
2.1 PENGERTIAN KOMUNIKASI
Kata atau istilah komunikasi (dari bahasa Inggris “communication”), secara etimologis atau menurut
asal katanya adalah dari bahasa Latin communicatus, dan perkataan ini
bersumber pada kata communis. Dalam kata communis ini memiliki makna
‘berbagi’ atau ‘menjadi milik bersama’ yaitu suatu usaha yang memiliki tujuan
untuk kebersamaan atau kesamaan makna.
Komunikasi secara terminologis merujuk pada adanya proses penyampaian suatu
pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Jadi dalam pengertian ini yang terlibat dalam
komunikasi adalah manusia. Karena itu merujuk pada pengertian Ruben dan Steward
(1998:16) mengenai komunikasi manusia
yaitu:
Human communication is the process through which individuals –in
relationships, group, organizations and societies—respond to and create
messages to adapt to the environment and one another. Bahwa komunikasi manusia adalah proses yang
melibatkan individu-individu dalam suatu hubungan, kelompok, organisasi dan
masyarakat yang merespon dan menciptakan pesan untuk beradaptasi dengan
lingkungan satu sama lain.
Untuk
memahami pengertian komunikasi tersebut sehingga dapat dilancarkan secara
efektif dalam Effendy (1994:10) bahwa para peminat komunikasi sering kali
mengutip paradigma yang dikemukakan oleh Harold Lasswell dalam karyanya, The
Structure and Function of Communication in Society. Lasswell mengatakan
bahwa cara yang baik untuk untuk menjelaskan komunikasi ialah dengan menjawab
pertanyaan sebagai berikut: Who Says What In Which Channel To Whom With What
Effect? [1]
Paradigma Lasswell di atas menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsur
sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan itu,yaitu:
1. Komunikator (siapa yang
mengatakan?)
2. Pesan (mengatakan apa?)
3. Media (melalui saluran/ channel/media
apa?)
4. Komunikan (kepada siapa?)
5. Efek (dengan dampak/efek
apa?).
Jadi berdasarkan paradigma Lasswell tersebut,
secara sederhana proses komunikasi adalah pihak komunikator membentuk (encode)
pesan dan menyampaikannya melalui suatu saluran tertentu kepada pihak penerima
yang menimbulkan efek tertentu.
Ada 8 asumsi tentang
komunikasi antar manusia :
1. Komunikasi sebagai
realitas social
2. Komunikasi sebagai proses
kreatif
3. Komunikasi sebagai suatu
system yang komplek
4. Komunikasi sebagai proses
pengembangan
5. Komunikasi sebagai suatu
fenomena yang kontekstual
6. Komunikasi sebagai suatu
yang bertujuan
7. Komunikasi sebagai suatu
realitas interaktif
8. Komunikasi sebagai suatu
proses yang teratur
2.2
PROSES KOMUNIKASI
Berangkat dari paradigma
Lasswell, Effendy (1994:11-19) membedakan proses komunikasi menjadi dua tahap,
yaitu:
1. Proses komunikasi secara primer
Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan atau
perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (symbol)
sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah
pesan verbal (bahasa), dan pesan nonverbal (kial/gesture, isyarat,
gambar, warna, dan lain sebagainya) yang secara langsung dapat/mampu
menerjemahkan pikiran dan atau perasaan komunikator kepada komunikan. [2]
Seperti disinggung di muka, komunikasi berlangsung apabila terjadi kesamaan
makna dalam pesan yang diterima oleh komunikan. Dengan kata lain, komunikasi
adalah proses membuat pesan yang setara bagi komunikator dan komunikan.
Prosesnya sebagai berikut, pertama-tama komunikator menyandi (encode)
pesan yang akan disampaikan disampaikan kepada komunikan. Ini berarti komunikator
memformulasikan pikiran atau perasaannya ke dalam lambang (bahasa) yang
diperkirakan akan dimengerti oleh komunikan. Kemudian giliran komunikan untuk
menterjemahkan (decode) pesan dari komunikator. Ini berarti ia
menafsirkan lambang yang mengandung pikiran dan atau perasaan komunikator tadi
dalam konteks pengertian. Yang penting dalam proses penyandian (coding)
adalah komunikator dapat menyandi dan komunikan dapat menerjemahkan sandi
tersebut (terdapat kesamaan makna).
Wilbur Schramm (dalam Effendy, 1994) menyatakan bahwa komunikasi akan
berhasil (terdapat kesamaan makna) apabila pesan yang disampaikan oleh
komunikator cocok dengan kerangka acuan (frame of reference), yakni
paduan pengalaman dan pengertian (collection of experiences and meanings)
yang diperoleh oleh komunikan. Schramm menambahkan, bahwa bidang (field of
experience) merupakan faktor penting juga dalam komunikasi. Jika bidang
pengalaman komunikator sama dengan bidang pengalaman komunikan, komunikasi akan
berlangsung lancar. Sebaliknya, bila bidang pengalaman komunikan tidak sama dengan
bidang pengalaman komunikator, akan timbul kesukaran untuk mengerti satu sama
lain. Sebagai contoh seperti yang diungkapkan oleh Sendjaja (1994:33) yakni :
Si A seorang mahasiswa ingin berbincang-bincang mengenai perkembangan valuta
asing dalam kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi. Bagi si A tentunya akan lebih
mudah dan lancar apabila pembicaraan mengenai hal tersebut dilakukan dengan si
B yang juga sama-sama mahasiswa. Seandainya si A tersebut membicarakan hal
tersebut dengan si C, sorang pemuda desa tamatan SD tentunya proses komunikaasi
tidak akan berjalan sebagaimana mestinya seperti yang diharapkan si A. Karena
antara si A dan si C terdapat perbedaan yang menyangkut tingkat pengetahuan,
pengalaman, budaya, orientasi dan mungkin juga kepentingannya. [3]
Contoh tersebut dapat memberikan gambaran bahwa proses komunikasi akan
berjalan baik atau mudah apabila di antara pelaku (sumber dan penerima) relatif
sama. Artinya apabila kita ingin berkomunikasi dengan baik dengan seseorang,
maka kita harus mengolah dan menyampaikan pesan dalam bahasa dan cara-cara yang
sesuai dengan tingkat pengetahuan, pengalaman, orientasi dan latar belakang
budayanya. Dengan kata lain komunikator perlu mengenali karakteristik
individual, sosial dan budaya dari komunikan. [4]
2. Proses komunikasi sekunder
Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh
komunikator kepada komunikan dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media
kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama.
Seorang komunikator menggunakan
media ke dua dalam menyampaikan komunikasi ke komunikan karena sebagai sasaran
berada di tempat yang relatif jauh atau jumlahnya banyak. Surat, telepon,
teleks, surat kabar, majalah, radio, televisi, film, dsb adalah media kedua yang
sering digunakan dalam komunikasi. Proses komunikasi secara sekunder itu
menggunakan media yang dapat diklasifikasikan sebagai media massa (surat kabar,
televisi, radio, dsb.) dan media nirmassa (telepon, surat, megapon, dsb.).
2.3
Saluran Komunikasi dalam Organisasi
Komunikasi adalah sebuah tindakan untuk berbagi informasi, gagasan atau pun
pendapat dari setiap partisipan komunikasi yang terlibat di dalamnya guna mencapai kesamaan
makna. Tindak komunikasi tersebut dapat dilakukan dalam berbagai konteks.
Konteks komunikasi yang telah dibahas pada modul-modul sebelumnya adalah
komunikasi antarpribadi (interpersonal Communication) dan komunikasi kelompok. Konteks komunikasi selanjutnya
yang akan kita bahas adalah komunikasi organisasi.
Tindak
komunikasi dalam suatu organisasi berkaitan dengan pemahaman mengenai peristiwa
komunikasi yang terjadi didalamnya, seperti apakah instruksi pimpinan sudah
dilaksanakan dengan benar oleh karyawan atau pun bagaimana karyawan/bawahan
mencoba menyampaikan keluhan kepada atasan, memungkinkan tujuan organisasi yang
telah ditetapkan dapat tercapai sesuai dengan hasil yang diharapkan. Ini hanya
satu contoh sederhana untuk memperlihatkan bahwa komunikasi merupakan aspek
penting dalam suatu organisasi, baik organisasi yang mencari keuntungan ekonomi
maupun organisasi yang bersifat sosial kemasyarakatan.
Fungsi
Komunikasi dalam Organisasi
Dalam suatu organisasi baik yang
berorientasi komersial maupun sosial, tindak komunikasi dalam organisasi atau
lembaga tersebut akan melibatkan empat fungsi, yaitu:
1.
Fungsi
informatif
Organisasi dapat dipandang sebagai
suatu sistem pemrosesan informasi (information-processing system).
Maksudnya, seluruh anggota dalam suatu organisasi berharap dapat memperoleh
informasi yang lebih banyak, lebih baik dan tepat waktu.
Informasi yang didapat memungkinkan
setiap anggota organisasi dapat melaksanakan pekerjaannya secara lebih pasti
informasi pada dasarnya dibutuhkan oleh semua orang yang mempunyai perbedaan
kedudukan dalam suatu organisasi. Orang-orang dalam tataran manajemen
membutuhkan informasi untuk membuat suatu kebijakan organisasi ataupun guna
mengatasi konflik yang terjadi di dalam organisasi. Sedangkan karyawan
(bawahan) membutuhkan informasi tentang jaminan keamanan, jaminan sosial dan
kesehatan, izin cuti dan sebagainya.[5]
2. Fungsi Regulatif
Fungsi regulatif ini berkaitan dengan
peraturan-peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi. Pada semua
lembaga atau organisasi, ada dua hal yang berpengaruh terhadap fungsi regulatif
ini, yaitu:
1.
Atasan
atau orang-orang yang berada dalam tataran manajemen yaitu mereka yang memiliki
kewenangan untuk mengendalikan semua informasi yang disampaikan.
Disamping itu mereka juga mempunyai kewenangan untuk memberikan instruksi atau
perintah, sehingga dalam struktur organisasi kemungkinan mereka ditempatkan
pada lapis atas (position of authority) supaya perintah-perintahnya
dilaksanakan sebagaimana semestinya. Namun demikian, sikap bawahan untuk
menjalankan perintah banyak bergantung pada:
- keabsahan pimpinan dalam
penyampaikan perintah
- kekuatan pimpinan dalam memberi
sanksi
- kepercayaan bawahan terhadap
atasan sebagai seorang pemimpin sekaligus sebagai pribadi
- tingkat kredibilitas pesan yang
diterima bawahan.
- Berkaitan dengan pesan atau
message. Pesan-pesan regulatif pada dasarnya berorientasi pada
kerja. Artinya, bawahan membutuhkan kepastian peraturan-peraturan
tentang pekerjaan yang boleh dan tidak boleh untuk dilaksanakan.
3. Fungsi Persuasif
Dalam mengatur suatu organisasi,
kekuasaan dan kewenangan tidak akan selalu membawa hasil sesuai dengan yang
diharapkan. Adanya kenyataan ini, maka banyak pimpinan yang lebih suka
untuk mempersuasi bawahannya daripada memberi perintah. Sebab pekerjaan
yang dilakukan secara sukarela oleh karyawan akan menghasilkan kepedulian yang
lebih besar dibanding kalau pimpinan sering memperlihatkan kekuasaan dan
kewenangannya.
4. Fungsi Integratif
Setiap
organisasi berusaha menyediakan saluran yang memungkinkan karyawan dapat
dilaksanakan tugas dan pekerjaan dengan baik. Ada dua saluran komunikasi
formal seperti penerbitan khusus dalam organisasi tersebut (newsletter,
buletin) dan laporan kemajuan oraganisasi; juga saluran komunikasi informal
seperti perbincangan antarpribadi selama masa istirahat kerja, pertandingan
olahraga ataupun kegiatan darmawisata. Pelaksanaan aktivitas ini akan
menumbuhkan keinginan untuk berpartisipasi yang lebih besar dalam diri karyawan
terhadap organisasi.[6]
BAB III
HAMBATAN DAN PENINGKATAN
KOMUNIKASI
3.1 Hambatan-Hambatan Dalam
Komunikasi
Suatu ketika keluarga kecil yang memiliki anak berumur lebih kurang tiga
tahun pulang kampung mengunjungi orang tuanya. Betapa senang hati si nenek
karena mendapat kunjungan dari anak dan cucunya. Mereka bermain dan
bercengkrama bersama hingga sore hari. Merekapun bermaksud untuk kembali pulang
kerumah. Karena si nenek masih rindu dan ingin bermain dengan cucunya, maka si
nenek meminta agar si cucu tinggal dan tidur bersamanya. Akhirnya karena si
nenek mendesak dan si cucupun mau, maka jadilah si cucu menginap di rumah
nenek dan kedua orang tuanya pun pulang.[7]
Tengah malam, si cucu terbangun dari tidurnya ingin buang air kecil. Lalu
dia membangunkan neneknya. “Nek bangun nek, aku mau nyanyi”. ( rupanya
si cucu sudah terbiasa dengan orang tuanya klo mau buang air bilang mau
nyanyi). Si nenek pun bangun dan berkata: “Cu, ini kan udah malam,
besok aja nyanyinya ya”. Lalu mereka pun tidur lagi.
Tidak
berapa lama, si cucupun terbangun karena sudah gak tahan mau buang air kecil. “nek
bangun nek, aku mau nyanyi”, si cucu terus merengek kepada neneknya. Karena
gak tahan dengan rengekan cucunya maka si nenek berkata: “baiklah, kamu
nyanyinya di teliga nenek saja ya”. Kontan si cucupun mengencingi telinga
neneknya. Dan nenekpun terpaksa menahan marahnya. Rupanya orang tua si cucu
lupa memberitahukan kepada si nenek kalau si cucu mau buang air dia akan bilang
mau nyanyi.
Demikianlah sebuah anekdot yang berhubungan dengan hambatan dalam
beromunikasi. Banyak hal yang bisa menghambat untuk terjadinya komunikasi yang
efektif. Menurut Leonard R.S. dan George Strauss dalam Stoner james, A.F dan
Charles Wankel sebagaimana yang dikutip oleh Herujito (2001), ada beberapa
hambatan terhadap komunikasi yang efektif, yaitu :[8]
a. Mendengar
Biasanya kita mendengar apa yang ingin kita dengar. Banyak hal atau
informasi yang ada di sekeliling kita, namun tidak semua yang kita dengar dan
tanggapi. Informasi yang menarik bagi kita, itulah yang ingin kita dengar.
b.
Mengabaikan informasi yang
bertentangan dengan apa yang kita ketahui.
c. Menilai sumber.
Kita
cenderung menilai siapa yang memberikan informasi. Jika ada anak kecil yang
memberikan informasi tentang suatu hal, kita cenderung mengabaikannya.
d. Persepsi yang berbeda.
Komunikasi
tidak akan berjalan efektif, jika persepsi si pengirim pesan tidak sama dengan
si penerima pesan. Perbedaan ini bahkan bisa menimbulkan pertengkaran, diantara
pengirim dan penerima pesan.
e.
Kata yang berarti lain bagi orang
yang berbeda.
Kita
sering mendengar kata yang artinya tidak sesuai dengan pemahaman kita.
Seseorang menyebut akan datang sebentar lagi, mempunyai arti yang berbeda bagi
orang yang menanggapinya. Sebentar lagi bisa berarti satu menit, lima menit,
setengah jam atau satu jam kemudian.
f.
Sinyal nonverbal yang tidak
konsisten.
Gerak-gerik
kita ketika berkomunikasi – tidak melihat kepada lawan bicara, tetap dengan
aktivitas kita pada saat ada yang berkomunikasi dengan kita, mampengaruhi
porses komunikasi yang berlangsung.
g.
Pengaruh emosi.
Pada
keadaan marah, seseorang akan kesulitan untuk menerima informasi. apapun berita
atau informasi yang diberikan, tidak akan diterima dan ditanggapinya.
h. Gangguan.
Gangguan
ini bisa berupa suara yang bising pada saat kita berkomunikasi, jarak yang
jauh, dan lain sebagainya.[9]
Itulah
beberapa hal yang dapat menghambat terjadinya komunikasi yang efektif. dari
anekdot tadi dapat kita lihat bahwa kata “nyanyi” di artikan berbeda antara si
nenek dengan si cucu. Nenek mengartikan kata nyanyi dengan arti
sebenarnya, sedangkan si cucu, -karena telah biasa menggunakan kata nyanyi
untuk buang air kecil-, mengartikan “nyanyi” sebagai buang air kecil.
3.2 PENINGKATAN EFEKTIFITAS
KOMUNIKASI
Ada dua cara untuk meningkatkan efektivitas komunikasi, yaitu :
1. Kebutuhan akan komunikasi yang
efektif
Untuk mencapai komunikasi yang efektif diperlukan beberapa cara yaitu
kesadaran akan kebutuhan komunikasi yang efektif dan penggunaan umpan balik.
Dijaman modern ini komunikasi merupakan subjek penting, maka
perusahaan-perusahaan besar biasanya menggunakan ahli komunikasi untuk membantu
memecahkan masalah-masalah komunikasi internal.
Komunikasi umpan balik atau dua arah memungkinkan proses komunikasi
berjalan lebih efektif dan dapat menciptakan lingkungan yang komunikatif dalam
organisasi. Dalam hal ini para manajer harus aktif. Penggunaan manajemen
partisi-pasif dan komunikasi tatap muka merupakan cara baik meningkatkan
efektifitas komunikasi melalui penggunaan umpan balik.
2. Komunikator yang lebih efektif
Untuk dapat menjadi komunikator yang lebih efektif harus memberikan
latihan-latihan dalam bentuk penulisan maupun penyampaian berita secara lisan
dengan maksud untuk meningkatkan pemahaman akan simbol-simbol, penggunaan
bahasa yang baik dan benar, pengutaraan yang tepat dan kepekaan terhadap latar
belakang penerima berita.
Salah satu alat yang digunakan adalah Active listening yang digunakan untuk
mengembangkan keterampilan manajemen para manajer, sebagai dasar peralatan ini
adalah penggunaan reflective statements (pernyataan balik) oleh para pendengar.
The American Management Association (AMA) menyusun sepuluh pedoman
efektivitas komunikasi organisasi, yaitu :[10]
1. Cobalah menjernihkan gagasan anda sebelum
berkomunikasi.
2. Telitilah kegunaan sebenarnya dari setiap
komunikasi.
3. Pertimbangkan situasi manusia dan fisik secara
keseluruhan bila mana anda berkomunikasi.
4. Berkonsultasi dengan orang lain, bila perlu dalam
merencanakan komunikasi.
5. Berhati-hatilah ketika anda berkomunikasi, mengenai
nada maupun isi pokok dari pesan anda.
6. Ambilah kesempatan bila muncul untuk menyampaikan
sesuatu yang dapat membantu atau bernilai bagi penerima.
7. Lakukan tindak lanjut komunikasi anda.
contoh kumpulan kkp makalah pendahuluan penelitian mahasiswa tentang teknik informatika komputer doc
DAFTAR PUSTAKA
Ø http://mukhliscaniago.wordpress.com/2011/03/12/upaya-meningkatkan-efektivitas-komunikasi-organisasi/
Ø Dari buku: Metode
Penelitian Komunikasi Kontemporer
[1]
Mohammad Abdul Mukhyi dan Iman
Hadi Saputro, Manajemen Umum, Seri Diktat Kuliah, Penerbit Gunadarma, Edisi
pertama cetakan kedua 1995.
[2] Komala,
Lukiati. 2009. Ilmu Komunikasi: Perspektif, Proses, dan Konteks.
Bandung: Widya Padjadjaran
[3] Komala,
Lukiati. 2009. Ilmu Komunikasi: Perspektif, Proses, dan Konteks.
Bandung: Widya Padjadjaran
[4]
Komala,
Lukiati. 2009. Ilmu Komunikasi: Perspektif, Proses, dan Konteks.
Bandung: Widya Padjadjaran
[5] Ruben Brent D
dan Lea P Stewart. (2006). Communication and Human Behavior. United States:
Allyn and Bacon
[7] Mohammad Abdul Mukhyi dan Iman Hadi Saputro,
Manajemen Umum, Seri Diktat Kuliah, Penerbit Gunadarma, Edisi pertama cetakan
kedua 1995.
[9] Mohammad Abdul Mukhyi dan Iman Hadi Saputro,
Manajemen Umum, Seri Diktat Kuliah, Penerbit Gunadarma, Edisi pertama cetakan
kedua 1995.
No comments:
Post a Comment